Paling Afdol Soal Kompak & Amanah - PASKA (2)
Sambungan dari: Paling Afdol Soal Kompak & Amanah - PASKA (1)
16 Agustus, saat ashar saya nongkrong bersama kaula Paska.
Mereka bertanya : "pak, besok pagi bakal ada pawai 17an - orang-orang biasanya ngarak bedug, patung dsb ke lapangan upacara.
Saya tanya balik : "kalian mo bikin apa, cuma nonton?".
Mereka jawab : "wah telat pak, mana sempat.. idenya aja belum nongol tuh?"
Saya tertawa : "haha kalian sudah pengalaman toh, dengan kompak tantangan sebesar apa bisa dijawab!"
Mereka semangat: "hayu pak kalo bpk punya ide! siap.."
Saya senyum: "ok, kumpulin anak-anak saya buat gambar"
Saya buat gambar garuda, anak-anak Paska kumpul dan bekerja. Garuda dibuat tidak tanggung kepalanya sampai setinggi tiang listrik. Pemuda Paska semua turun, kerja sampai pagi. Saat mau ke lapangan, garuda selesai walau cat masih basah dan anak-anak pada letih (tidur), saya pun letih sekali tapi tidak bisa istirahat sebab siapa yang nganter burung ke lapangan upacara.
Sohib percaya tidak, burung diangkut pakai 2 mobil pickup, saya sampai bawa bambu panjang untuk membetulkan kabel listrik saat terlewati kepala garuda. Sayap garuda terbentang selebar jalan, mobil tdk bisa lewat. Ada yang bertugas benerin ekornya dst. Wah seru. Susah payah tiba di lapangan, dan semua bengong!!! Ada garuda raksasa memasuki lapangan upacara, yang lain cuma diangkut pakai beca.
Karena ngantuk saya titip garuda ke anak-anak nanti pulangnya.
Anak-anak protes: "pak ini kan idenya bapak, nanti yg dipujinya orang lain dong...".
Saya tertawa teler: "haha kalian yang hebat bukan saya".
Anak-anak sudah mengerti sifat saya. Saya pulang terus tidur.
Lagi enak tidur, ketua pemuda datang; "pak tadi dari KNPI, Koramil dan Kecamatan dateng, minta itu burung diabadikan dan diarak sampai kota .. mereka bangga sekali, dan ingin bupati menyaksikan."
Saya tertawa: "Saya sudah senang kalian tahu hebatnya kompak! Kalo namanya golkar, koramil atau pak camat mau ngarak itu garuda, suruh bawa sendiri saja.. pake duit sendiri, jangan bisanya cuma minta, ngerjain kalian lagi sudah gitu duit duit kalian juga nama mereka yg makan. Apa kalian mau karena pujian murahan kalian ngarak garuda 16 km, sedangkan kalian yang hebat mampu membangun itu dalam 1 malam. Kalian yang hebat bukan mereka .. kalian tidak mereka hargai .. percayalah!".
Tak ada satupun pemuda Paska mau ngarak garuda itu ke kota. Akhirnya garuda itu dipakai untuk menghias panggung 17an. Saya dan Paska buat panggung 8x10 m2, dan burung garuda itu persis nutup panggung itu, ... Paska benar-benar bangga dengan jerih payah mereka sendiri, dan sampai sekarang saya belum pernah melihat panggung sehebat itu. Sejak itu Paska selalu diminta jadi penyelenggara atau konsultannya. Saya bangga bisa melihat, mengolah dan mengorganisasi potensi. Saya tahu keburukan itu juga potensi, selama kita mampu tepat menghargainya.
Saya sendiri sebenarnya pemarah, itu sebab pake nama singa.
Anak-anak Paska mengerti, jika saya buat acara, saya bisa mati disitu - sebab saya tdk akan biarkan siapa pun mengacau, termasuk TNI. Saya pernah tarik dan bungkam TNI dari panggung hanya karena dia mabok mau joged.
Zhang Sanfeng (Penemu Taichi) juga akhli marah, tapi dikendalikan. Konon dia tidak pernah dalam keadaan tidak marah, tetapi orang yang melihatnya justru melihat dia tidak pernah marah. Orang sabar itu justru orang yang pandai mengendalikan amarah, bukan yang tidak-pemarah.
= TAMAT =
Mereka bertanya : "pak, besok pagi bakal ada pawai 17an - orang-orang biasanya ngarak bedug, patung dsb ke lapangan upacara.
Saya tanya balik : "kalian mo bikin apa, cuma nonton?".
Mereka jawab : "wah telat pak, mana sempat.. idenya aja belum nongol tuh?"
Saya tertawa : "haha kalian sudah pengalaman toh, dengan kompak tantangan sebesar apa bisa dijawab!"
Mereka semangat: "hayu pak kalo bpk punya ide! siap.."
Saya senyum: "ok, kumpulin anak-anak saya buat gambar"
Saya buat gambar garuda, anak-anak Paska kumpul dan bekerja. Garuda dibuat tidak tanggung kepalanya sampai setinggi tiang listrik. Pemuda Paska semua turun, kerja sampai pagi. Saat mau ke lapangan, garuda selesai walau cat masih basah dan anak-anak pada letih (tidur), saya pun letih sekali tapi tidak bisa istirahat sebab siapa yang nganter burung ke lapangan upacara.
Sohib percaya tidak, burung diangkut pakai 2 mobil pickup, saya sampai bawa bambu panjang untuk membetulkan kabel listrik saat terlewati kepala garuda. Sayap garuda terbentang selebar jalan, mobil tdk bisa lewat. Ada yang bertugas benerin ekornya dst. Wah seru. Susah payah tiba di lapangan, dan semua bengong!!! Ada garuda raksasa memasuki lapangan upacara, yang lain cuma diangkut pakai beca.
Karena ngantuk saya titip garuda ke anak-anak nanti pulangnya.
Anak-anak protes: "pak ini kan idenya bapak, nanti yg dipujinya orang lain dong...".
Saya tertawa teler: "haha kalian yang hebat bukan saya".
Anak-anak sudah mengerti sifat saya. Saya pulang terus tidur.
Lagi enak tidur, ketua pemuda datang; "pak tadi dari KNPI, Koramil dan Kecamatan dateng, minta itu burung diabadikan dan diarak sampai kota .. mereka bangga sekali, dan ingin bupati menyaksikan."
Saya tertawa: "Saya sudah senang kalian tahu hebatnya kompak! Kalo namanya golkar, koramil atau pak camat mau ngarak itu garuda, suruh bawa sendiri saja.. pake duit sendiri, jangan bisanya cuma minta, ngerjain kalian lagi sudah gitu duit duit kalian juga nama mereka yg makan. Apa kalian mau karena pujian murahan kalian ngarak garuda 16 km, sedangkan kalian yang hebat mampu membangun itu dalam 1 malam. Kalian yang hebat bukan mereka .. kalian tidak mereka hargai .. percayalah!".
Tak ada satupun pemuda Paska mau ngarak garuda itu ke kota. Akhirnya garuda itu dipakai untuk menghias panggung 17an. Saya dan Paska buat panggung 8x10 m2, dan burung garuda itu persis nutup panggung itu, ... Paska benar-benar bangga dengan jerih payah mereka sendiri, dan sampai sekarang saya belum pernah melihat panggung sehebat itu. Sejak itu Paska selalu diminta jadi penyelenggara atau konsultannya. Saya bangga bisa melihat, mengolah dan mengorganisasi potensi. Saya tahu keburukan itu juga potensi, selama kita mampu tepat menghargainya.
Saya sendiri sebenarnya pemarah, itu sebab pake nama singa.
Anak-anak Paska mengerti, jika saya buat acara, saya bisa mati disitu - sebab saya tdk akan biarkan siapa pun mengacau, termasuk TNI. Saya pernah tarik dan bungkam TNI dari panggung hanya karena dia mabok mau joged.
Zhang Sanfeng (Penemu Taichi) juga akhli marah, tapi dikendalikan. Konon dia tidak pernah dalam keadaan tidak marah, tetapi orang yang melihatnya justru melihat dia tidak pernah marah. Orang sabar itu justru orang yang pandai mengendalikan amarah, bukan yang tidak-pemarah.
= TAMAT =